Oleh: Rendai Ruauw
Manado, Elnusanews.com – Pesta demokrasi iman di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa kini telah resmi usai. Dari hitungan suara di tingkat kolom hingga seluruh tahapan kategorial Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, dan Anak Sekolah Minggu, seluruh nama pelayan khusus yang baru telah genap terpilih.
Di panggung publik, genderang prosesi telah reda. Namun, bersamaan dengan ketukan palu terakhir yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian pemilihan tersebut, sebuah panggung baru yang tidak kalah riuh justru mendadak berganti layar di media sosial kita.
Layar-layar gawai kita dalam beberapa hari ini dipenuhi oleh gelombang narasi yang begitu anggun. Mantan penatua, mantan diaken, hingga mereka yang gagal melangkah menjadi pelayan khusus beramai-ramai mengunggah kalimat-kalimat manis. Ada deretan ucapan syukur yang puitis, ungkapan keikhlasan yang terkesan sangat matang, hingga doa-doa rohani bagi mereka yang terpilih.
Bagi mata yang melihat sepintas, ini adalah pemandangan yang sangat indah tentang kedewasaan iman. Namun bagi nurani yang jujur, maraknya pamer keikhlasan ini justru menyisakan rasa getir. Ada kepalsuan yang tercium begitu menyengat di balik tumpukan kata-kata rohani tersebut.
Jika kita menarik garis lurus ke pesta demokrasi negara, masyarakat sangat akrab dengan keberadaan Bawaslu. Lembaga pengawas itu bekerja keras memburu politik uang, menindak intrik terselubung, dan membongkar kepalsuan para politisi yang bersilat kata demi suara.
Di ranah politik profan, Bawaslu hadir sebagai benteng hukum untuk memastikan integritas tidak mati digilas ambisi.
Namun, apa yang terjadi ketika praktik-praktik kotor yang biasa diburu oleh Bawaslu itu justru beroperasi dengan sangat mulus di dalam lingkungan gereja selama masa pemilihan kemarin?
Di dalam bait suci, tidak ada kantor Bawaslu. Tidak ada Sentra Penegakan Hukum yang akan memanggil mereka yang membagi-bagikan materi, tidak ada pengawas yang mencatat rumor dan pencemaran nama baik di lorong-lorong jemaat, dan tidak ada sanksi gugatan bagi mereka yang merusak persaudaraan demi sebuah tempat di barisan depan altar.
Karena tidak ada lembaga pengawas manusia di gereja, sebagian dari kita merasa bebas bertindak seolah-olah Tuhan tidak sedang melihat.
Tragedi spiritual ini menjadi sempurna ketika seluruh hasil pemilihan diumumkan. Pihak yang kalah dalam politik dunia mungkin membawa berkas sengketa ke Bawaslu. Namun di dalam gereja, mereka yang ambisinya runtuh memilih jalan yang jauh lebih halus: mengenakan topeng kesucian di media sosial.
Mereka sibuk meyakinkan publik bahwa jiwa mereka sangat pasrah dan ikut senang atas kemenangan orang lain.
Padahal, di balik jemari yang lincah mengetik bait-bait puitis itu, ada batin yang sedang terbakar oleh cemburu, rasa tidak terima, dan amarah yang sengaja disembunyikan rapat-rapat demi menyelamatkan gengsi.
Sungguh sebuah bentuk kemunafikan yang sangat menohok. Bagaimana mungkin tangan yang kemarin berbisik kotor dan bertransaksi demi amannya dukungan, tiba-tiba hari ini paling nyaring mengutip ayat-ayat suci tentang ketulusan?
Betapa ironisnya ketika seseorang merasa berhasil mengelabui publik dengan narasi keikhlasan di lini masa, padahal di dalam hatinya tersimpan kepahitan yang mendalam.
Kita seolah lupa bahwa meski di gereja tidak ada Bawaslu yang mengeluarkan surat teguran, ada Mata yang Maha Kudus yang menatap lurus hingga ke kedalaman batin yang paling sunyi.
Tradisi Gereja Reformed yang berakar kuat dalam teologi Calvinis lalu meresap dalam GMIM selalu mengingatkan kita akan prinsip kedaulatan Allah yang mutlak.
Pelayanan adalah bentuk pengosongan diri untuk memikul salib, bukan panggung kehormatan untuk meraih pengakuan sosial.
Ketika seseorang mengejar jabatan pelayanan dengan cara-cara tak terpuji lalu membungkus kegagalannya dengan pamer kerendahan hati di dunia maya, ia sesungguhnya sedang merendahkan sakralnya panggilan gereja.
Ia memperlakukan altar tak ubahnya arena politik murahan yang hanya butuh polesan citra.
Bawaslu di dunia maya mungkin bisa terkecoh oleh ribuan tanda suka dan pujian warganet atas status-status rohani yang kita pamerkan.
Namun Allah tidak pernah bisa disogok oleh kerapian tata bahasa atau kepalsuan sikap.
Kecewa dan sedih karena tidak terpilih adalah hal yang sangat manusiawi, dan tidak ada cela jika kita mengakuinya secara jujur di hadapan Tuhan dalam ruang doa pribadi.
Yang menjadi noda hitam adalah ketika kekecewaan itu ditutupi dengan pura-pura bahagia dan pura-pura ikhlas hanya demi menjaga harga diri di hadapan sesama jemaat.
Kini, ketika seluruh pemilihan telah usai, marilah kita menyadari bahwa pengawas sejati atas iman kita bukanlah lembaga atau manusia, melainkan Roh Kudus yang berdiam di dalam nurani.
Mari kita tanggalkan seluruh panggung sandiwara ini. Bagi yang tidak terpilih, melayanilah dalam kesunyian tanpa perlu pembuktian kata-kata di media sosial, sebab ladang Tuhan sangat luas di luar jabatan struktural.
Dan bagi yang telah terpilih, bertobatlah jika ada cara-cara tak terpuji yang pernah dilakukan selama proses berlangsung, sebab tanggung jawab di hadapan Allah jauh lebih berat daripada sekadar mempertahankan reputasi di mata manusia.
.


















