banner 728x250
Manado  

Di Antara Sunyinya Altar dan Kebisingan Lini Masa

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Rendai Ruauw

Manado, Elnusanews.com – Layar-layar gawai kita sejak kemarin mendadak riuh oleh deretan kalimat santun yang dikemas begitu rapi. Ada ucapan syukur yang puitis, ungkapan keikhlasan yang terkesan begitu anggun, hingga doa-doa indah yang dipanjatkan untuk mereka yang baru saja terpilih sebagai pelayan khusus.

banner 325x300

Di atas panggung digital itu, semua orang mendadak tampak begitu legawa. Yang kemarin melepas jabatan penatua atau diaken tampil dengan senyum paling menawan di foto profilnya, sementara yang tidak terpilih menuliskan narasi pasrah seolah-olah seluruh jiwanya telah selesai dengan urusan duniawi.

Pemandangan ini sekilas terasa menyejukkan, sebuah pesta demokrasi iman yang berakhir dengan kedamaian tanpa cela. Namun, ketika kita melangkah sedikit lebih jauh dari gemerlap layar kaca dan masuk ke dalam sunyinya ruang batin, terasa ada sesuatu yang janggal.

Seperti ada nada sumbang yang tersembunyi di balik simfoni kata-kata manis tersebut, sebuah kepalsuan yang ditutup rapat menggunakan kain kesucian.

Proses pemilihan pelayan khusus di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa, yang baru saja melewati dinamika di tingkat kolom pada tanggal enam belas lalu dan kini telah selesai dan sebagian masih berlanjut pada jenjang kategorial Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, serta Anak Sekolah Minggu, sesungguhnya adalah cermin yang sangat jernih. Cermin itu memantulkan bukan hanya siapa yang terpilih dan tidak terpilih, melainkan bagaimana sesungguhnya wajah spiritualitas kita hari ini.

Dalam tradisi gereja reformed yang mengakar kuat dalam helatan sejarah Calvinisme, sebuah jabatan pelayan tidak pernah dirancang sebagai panggung kehormatan, apalagi arena perebutan gengsi sosial. Pelayanan adalah panggilan untuk menjadi hamba dari para hamba, sebuah pengosongan diri yang menuntut kerendahan hati yang murni di hadapan Allah yang Mahakudus. Namun, realita di lapangan sering kali memperlihatkan drama yang sama sekali berbeda dari teologi yang kita gaungkan di atas mimbar.

Kita semua tahu, meski tidak banyak yang berani mengucapkannya secara terbuka, betapa riuhnya hari-hari menjelang perhelatan ini. Trik-trik politik profan yang lazim kita kutuk dalam pesta demokrasi negara, tiba-tiba menemukan bentuknya yang paling halus di dalam ruang-ruang gereja.

Bisik-bisik di belakang layar, penggalangan dukungan yang terselubung, pemberian materi yang dikemas sebagai aksi kasih, hingga intrik untuk menjatuhkan karakter sesama saudara seiman demi sebuah nama di surat suara. Semua cara kotor itu bergulir tanpa rasa malu, seolah-olah Allah bisa disogok dengan kepiawaian bertransaksi.

Dan ketika hasil akhir tidak berpihak pada ambisi tersebut, panggung bersandiwara pun berpindah dari lorong-lorong jemaat menuju lini masa media sosial. Topeng kesucian yang baru segera dikenakan, lengkap dengan bait-bait ikhlas yang dibuat selayaknya puisi surgawi.

Betapa menyedihkannya menyaksikan bagaimana ungkapan iman dijadikan alat penyelamat muka. Status media sosial yang mengklaim diri ikut senang, mendoakan yang terpilih, dan merasa sudah cukup melayani, sering kali hanyalah benteng pertahanan diri dari rasa malu akibat kekalahan.

Di balik jemari yang dengan lincah merangkai kata-kata pasrah itu, ada hati yang sedang terbakar oleh cemburu, amarah yang terpendam, serta dendam yang belum tuntas. Jika memang keikhlasan itu nyata, mengapa ia harus ditiupkan dengan terompet keutamaan di hadapan publik?

Bukankah keikhlasan sejati tidak membutuhkan tepuk tangan penonton, sebab ia cukup berbisik pelan di dalam bilik doa yang tertutup rapat? Ketidakjujuran pada diri sendiri ini adalah bentuk kekejian spiritual yang paling halus, di mana nama Tuhan selalu diseret hanya untuk membungkus ego yang terluka.

Tradisi Gereja Reformed selalu mengajarkan kepada kita tentang doktrin Soli Deo Gloria, bahwa segala kemuliaan hanya bagi Allah semata. Ketika seorang pelayan melangkah ke depan untuk menyerahkan dirinya, ia sedang menyatakan bahwa hidupnya adalah milik Kristus dan kepentingannya sendiri telah mati. Namun yang terjadi belakangan ini justru kebalikannya: Allah dijadikan sarana, sementara jabatan pelayan dijadikan tujuan untuk meraih kemuliaan diri sendiri.

Kita mendapati fenomena unik di mana seseorang bisa sangat berharap, bahkan mengupayakan berbagai cara agar dipandang layak menjadi penatua atau diaken, namun ketika keinginan itu tidak terwujud, ia tidak mampu menerima kenyataan dengan jujur. Ia tidak berani mengakui di hadapan cermin bahwa ia sedang kecewa dan terluka.

Sebagai gantinya, ia memilih untuk berpura-pura menjadi pahlawan iman yang paling matang, menyusun narasi bahwa dirinya telah selesai dengan urusan jabatan, padahal dalam jiwanya sedang terjadi perang dingin dengan keputusan jemaat.

Kepalsuan seperti ini sesungguhnya merendahkan hakikat dari gereja itu sendiri. Gereja bukanlah teater tempat para aktor bertukar peran sesuai naskah yang menyenangkan penonton. Gereja adalah tubuh Kristus yang di dalamnya kebenaran dan kejujuran harus menjadi fondasi utama. Menjadi tidak terpilih sama sekali bukan sebuah kehinaan, sebagaimana terpilih juga bukanlah sebuah tanda keunggulan moral atau kesucian hidup.

Allah memanggil siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan kedaulatan-Nya yang mutlak, sebuah prinsip Sola Gratia yang seharusnya membuat setiap kita gemetar, baik yang dipanggil maupun yang diposisikan untuk mendukung dari bangku jemaat.

Ketika seseorang merasa berhak atas sebuah jabatan pelayanan hanya karena ia telah lama menjadi jemaat, atau karena ia merasa memiliki pengaruh dan materi yang lebih, ia sesungguhnya sedang merobek-robek kain keagungan rahmat Allah dan menggantinya dengan kualifikasi duniawi yang fana.

Lalu untuk apa semua retorika manis di media sosial itu dipajang jika di dalam hati masih tersimpan kepahitan? Tuhan yang kita sembah bukanlah penonton yang bisa dikelabui oleh keindahan tata bahasa atau kerapian susunan kalimat. Dia adalah Allah yang meneliti batin dan menguji hati, yang melihat melewati dinding-dinding kepura-puraan manusia. Di mata-Nya, sebuah doa sederhana yang jujur dari seorang jemaat yang mengakui rasa kecewanya jauh lebih berharga daripada untaian kalimat bertema keikhlasan dari seseorang yang jiwanya penuh dengan kepalsuan.

Ketaatan yang sejati tidak membutuhkan pembenaran dari warganet, dan kesetiaan melayani tidak diukur dari berapa banyak jumlah tanggapan atau pujian yang didapatkan di dunia maya.

Sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan ketika kita melihat mereka yang sebelumnya menggunakan cara-cara tidak terpuji demi mengamankan suara, kini justru paling nyaring menyuarakan pesan-pesan moralitas di akun pribadinya.

Politik uang dan manipulasi emosional yang terjadi selama proses pemilihan adalah noda hitam yang tidak bisa dihilangkan begitu saja hanya dengan mengunggah ayat-ayat Kitab Suci atau kutipan bijak.

Kasih yang berpura-pura dan kesucian yang dibuat-buat hanyalah manifestasi dari paham Farisi modern, di mana cangkir bagian luar dibersihkan dengan sangat mengilap, sementara bagian dalamnya penuh dengan kotoran dan keserakahan.

Jika hari ini mereka yang gagal mendapatkan posisi sibuk membangun citra sebagai orang yang legawa, sesungguhnya publik yang kritis dapat melihat dengan sangat jelas betapa tipisnya batas antara kerendahan hati yang hakiki dan kesombongan yang tersembunyi.

Bagi mereka yang belum pernah terpilih sebagai pelayan khusus namun menyimpan harapan yang meluap-luap di dalam dada, momen ini seharusnya menjadi ruang introspeksi yang sangat mendalam.

Apakah keinginan untuk menjadi pelayan khusus itu murni timbul dari dorongan untuk memikul salib dan menggembalakan domba-domba Kristus, ataukah itu sekadar ambisi terselubung untuk diakui, dihormati, dan memiliki status sosial tertentu di tengah komunitas jemaat?

Jika dorongan itu murni berasal dari Roh Kudus, maka ketika nama kita tidak dipanggil, tidak akan ada rasa berkecil hati apalagi dorongan untuk bersandiwara. Sebab, kesempatan untuk melayani Tuhan tidak pernah dibatasi oleh selendang atau stola pelayanan.

Ladang Tuhan begitu luas, membentang dari dalam rumah tangga kita sendiri, tempat kerja, hingga ke sudut-sudut masyarakat yang paling terpinggirkan dan tak pernah tersentuh oleh sorot kamera.

Tahap pemilihan kategorial BIPRA yang sebagian telah berlangsung hari ini, hendaknya segenap jemaat dan calon pelayan kembali merenungkan secara sungguh-sungguh arti dari panggilan gereja yang koinonia, diakonia, dan marturia.

Pemilihan ini bukanlah ajang kontestasi politik lokal yang harus dimenangkan dengan strategi perpecahan atau intrik-intrik murahan. Siapa pun yang nantinya dipercayakan untuk memangku tanggung jawab di kategorial Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, maupun Anak Sekolah Minggu, mereka memikul beban teologis yang sangat berat untuk menjadi teladan hidup, bukan sekadar pengatur organisasi.

Dan bagi mereka yang tidak terpilih, ujian iman yang sebenarnya justru baru saja dimulai: mampukah kita tetap setia melayani dalam kesunyian tanpa atribut jabatan, tanpa tempat duduk khusus di barisan depan, dan tanpa perlu membuktikan apa-apa kepada publik?

Sudah saatnya kita menghentikan budaya kepura-puraan yang menggerogoti keaslian iman kita. Jika ada rasa sedih karena tidak terpilih, akuilah rasa sedih itu di hadapan Tuhan dalam doa-doa pribadi kita, sebab Dia adalah Bapa yang memahami kelemahan manusia.

Jika ada rasa kecewa, bawalah kekecewaan itu ke kaki salib agar disembuhkan, bukan malah ditutupi dengan topeng keikhlasan yang manis di media sosial hanya demi menjaga gengsi di mata sesama.

Kejujuran spiritual, sekecil apa pun itu, jauh lebih mulia daripada kesucian palsu yang dirangkai demi citra diri.

Hanya dengan menanggalkan seluruh panggung sandiwara ini, gereja kita dapat kembali menjadi komunitas iman yang sehat, berdampak, dan benar-benar memuliakan nama Tuhan, baik di dalam riuhnya proses pemilihan maupun dalam sunyinya pelayanan sehari-hari.

.

.

Loading

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *