SANGIHE , Elnusanews – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjalar ke wilayah Kecamatan Kendahe, Kecamatan Tabukan Utara, dan Kecamatan Tahuna Barat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, terus dikebut. Hingga Jumat (11/9/2026), operasi pemadaman yang melibatkan sinergi pemerintah kecamatan, jajaran TNI-Polri, dan ratusan relawan di garis depan lereng Gunung Awu tersebut telah memasuki hari keenam.
Camat Kendahe, Irwin Sasiang, S.P., menyatakan bahwa situasi terkini di lapangan secara umum mulai terkendali. Berdasarkan hasil pemantauan udara menggunakan pesawat tanpa awak (drone), titik api terdekat yang sebelumnya menghampiri perkebunan warga kini sudah berhasil dijinakkan.
“Hasil pemantauan drone dari posko utama ke titik api itu jaraknya kurang lebih 3,5 kilometer. Sementara dari batas perkebunan warga atau Posko 3, jaraknya sekitar 1 kilometer. Bersyukur, posisi api di titik tersebut sudah bisa dipadamkan oleh relawan sejak 2 hingga 3 hari yang lalu. Sampai hari ini mulai padam,” ujar Irwin saat diwawancarai di Posko Utama Karhutla Kecamatan Kendahe, Jumat (11/9/2026).
Kendati demikian, Camat menjelaskan bahwa pergerakan api sempat terpecah ke dua arah akibat kepungan api dari wilayah tetangga. Api bergerak ke arah utara menuju wilayah Kampung Kendahe 1, serta ke arah selatan menuju Bulude Mapasang di wilayah Kecamatan Tahuna Barat.
Untuk mengantisipasi eskalasi situasi, Kecamatan Kendahe telah ditetapkan dalam status Siaga 1 sejak tiga hari lalu. Pengumuman resmi bersama pihak Kepolisian dan TNI pun terus disebarluaskan menggunakan pengeras suara patroli. Status ini diberlakukan karena wilayah Kendahe sempat terkepung titik api yang menjalar dari lereng Gunung Awu.
Aksi kemanusiaan dan semangat gotong royong terlihat jelas di lapangan. Setiap harinya, puluhan hingga ratusan warga secara sukarela naik ke gunung untuk menjinakkan si jago merah. Tercatat sebanyak 60 relawan mendaki pada hari Kamis, disusul 48 relawan pada hari Jumat, dengan jumlah yang terus bertambah hingga sore hari.
Demi menjaga keselamatan dan efektivitas kerja, Camat membagi para relawan ke dalam tiga divisi khusus yang dikomandoi oleh seorang Koordinator Lapangan (Korlap). Ketiga divisi tersebut adalah relawan pemantau api, relawan pengangkut logistik, dan relawan pemadam api.
“Relawan kami menggunakan alat seadanya; cangkul, sekop, parang, dan air galon. Mereka bekerja giat tanpa pamrih, meninggalkan keluarga demi melindungi masyarakat. Sebagai camat, gotong royong ini membuat saya sangat bangga. Seberat apa pun pekerjaan, jika dilakukan bersama pemerintah kecamatan, kampung, TNI-Polri, dan masyarakat, semua bisa terselesaikan,” ungkap Camat.
Guna mendukung perjuangan di garda terdepan, bantuan logistik terus mengalir dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, pihak perbankan, instansi swasta, hingga sumbangan pribadi warga. Camat memastikan seluruh bantuan dikelola secara transparan dengan administrasi yang ketat.
“Barang masuk dicatat ketat; siapa pemberinya, jumlah, dan jenisnya. Dari Posko Induk Karhutla Kecamatan Kendahe (Kampung Kendahe 1 dan Kendahe 2), logistik langsung didistribusikan ke empat posko wilayah lainnya, yaitu Posko Kampung Talawid, Kampung Tariang Lama, Posko Kampung Pempalaraeng, dan Posko Kampung Mohongsawang,” tambahnya.
Di lokasi yang sama, Pilot Drone Pengawas Titik Api, Christian Natanael Tambunan, memberikan gambaran teknis mengenai kondisi geografis kebakaran berdasarkan hasil pemetaan udara yang dilakukannya dari halaman Kantor Camat Kendahe pada Jumat siang pukul 14:05 WITA.
Christian mengonfirmasi bahwa komunikasi via Handy Talky (HT) dengan tim lapangan memastikan titik api di dekat Pos 3 telah padam. Namun, ancaman belum sepenuhnya hilang karena masih ada dua titik api yang sulit dijangkau di kawasan tebing Gunung Awu.
“Sisa titik api yang sekarang masih ada dua titik berada di atas tebing, tepatnya di sebelah kiri dengan jarak sekitar 3,3 kilometer dari permukiman warga dan 1,3 kilometer dari perkebunan warga. Medan di atas tebing itu cukup curam,” kata Christian.
Ia menambahkan bahwa pantauan udara dari berbagai sisi tersebut telah mencakup hampir 40 persen kawasan Gunung Awu.
“Jika diprediksi dari hasil tangkapan kamera drone, luasan lahan yang terbakar kemungkinan sudah mencapai sekitar 500 hektar,” pungkas Christian.
(OpMud)


















