banner 728x250

Ketika Demokrasi Mengetuk Pintu Kampus

banner 120x600
banner 468x60

SULUT, Elnusanews – Ada saat ketika sebuah kampus tidak hanya menjadi tempat memulai perkuliahan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya harapan.

Di sanalah ilmu mulai disemai, cara berpikir mulai dibentuk, dan tanggung jawab kepada bangsa perlahan tumbuh di dalam diri setiap mahasiswa.

banner 325x300

Suasana itulah yang terasa dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Manado (UNIMA) pada Kamis (6 Agustus 2026).

Di hadapan para mahasiswa baru, Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Diklat Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara, Erwin Sumampouw, mengajak generasi muda memandang demokrasi bukan sekadar rangkaian pemilu lima tahunan, melainkan nilai yang harus dijaga setiap hari melalui kejujuran, kepedulian, dan keberanian berpikir kritis.

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka bukan sekadar calon pemilih, melainkan calon pemimpin, peneliti, akademisi, dan penggerak masyarakat. Dari ruang-ruang kuliah inilah masa depan demokrasi perlahan dibentuk.

Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan demokrasi semakin kompleks. Hoaks, ujaran kebencian, politik identitas, hingga rendahnya literasi politik dapat dengan mudah memengaruhi cara pandang masyarakat. Karena itu, generasi muda dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijaksana dalam menyaring informasi serta berani mempertahankan kebenaran.

Erwin mengingatkan bahwa menjaga demokrasi bukan hanya tugas penyelenggara pemilu ataupun lembaga negara. Demokrasi membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama mahasiswa yang memiliki daya pikir kritis dan idealisme yang masih menyala. Kehadiran mereka dapat menjadi energi baru dalam membangun budaya pengawasan partisipatif yang jujur, adil, dan bermartabat.

Bagi Bawaslu, kampus bukan sekadar tempat menyampaikan materi kepemiluan. Kampus adalah ruang dialog yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kebangsaan. Dari diskusi-diskusi sederhana, lahir kesadaran bahwa setiap suara memiliki arti, setiap pilihan membawa konsekuensi, dan setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas demokrasi.

Barangkali itulah pesan paling penting yang ingin ditinggalkan hari itu. Bahwa demokrasi tidak selalu dimulai dari ruang sidang, kantor penyelenggara pemilu, atau bilik suara. Ia justru bertumbuh ketika seorang mahasiswa mulai berani bertanya, berani menguji setiap informasi, dan berani berpihak pada kebenaran meski berbeda dengan arus yang lebih ramai.

Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menjaga nuraninya. Dan ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan integritas, ketika keberanian berpadu dengan kejujuran, di situlah demokrasi menemukan penjaga-penjaganya yang baru.

Mungkin suatu hari nanti, para mahasiswa yang hari ini duduk mendengarkan di bangku PKKMB akan berdiri di berbagai ruang pengabdian: sebagai guru, hakim, birokrat, politisi, jurnalis, peneliti, ataupun penyelenggara pemilu. Apa pun profesinya kelak, mereka membawa satu pesan yang sama: bahwa demokrasi yang sehat tidak diwariskan begitu saja, tetapi dirawat oleh orang-orang yang bersedia menjaganya dengan akal, hati, dan integritas.

(Rendai Ruauw).
.

Loading

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *