banner 728x250

Di Halaman Bawaslu, Kemerdekaan Kembali Mengingatkan Kita tentang Pengabdian

banner 120x600
banner 468x60

Pagi itu, halaman Kantor Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara tidak hanya menjadi tempat berdirinya barisan upacara.

Ia menjadi ruang kecil tempat sebuah bangsa kembali mengingat dari mana ia datang, dan untuk apa kemerdekaan itu harus terus dijaga.

banner 325x300

Senin, 17 Agustus 2026, jajaran Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Hadir dalam upacara tersebut Ketua Bawaslu Sulut Ardiles Mewoh, Anggota Bawaslu Sulut Zulkifli Densi, Donny Rumagit, Erwin F. Sumampouw, dan Steffen S. Linu, Kepala Sekretariat Aldrin A. Christian, bersama jajaran pejabat struktural dan seluruh pegawai di lingkungan Bawaslu Sulut.

Di antara barisan yang berdiri tegak, merah putih berkibar. Matahari pagi seolah menjadi saksi bahwa kemerdekaan bukan sekadar angka yang bertambah setiap tahun. Ia adalah ingatan.

Ingatan tentang mereka yang pernah berdiri di hadapan penjajahan dengan keberanian yang mungkin jauh lebih besar daripada apa yang mereka miliki. Ingatan tentang sebuah bangsa yang memilih untuk menentukan nasibnya sendiri.

Dalam upacara tersebut, Ardiles Mewoh bertindak sebagai Pembina Upacara. Ada satu momen yang terasa lebih dari sekadar rangkaian seremoni: ketika sang Ketua berdiri dan membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan suara lantang dan penuh khidmat, kalimat yang telah mengubah perjalanan sejarah bangsa itu kembali bergema di halaman Kantor Bawaslu Sulut.

“Proklamasi, kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”

Kalimat iu telah berusia 81 tahun.

Namun setiap kali diucapkan, ia seperti kembali menemukan waktunya.

Seolah mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai setelah sebuah proklamasi dibacakan. Kemerdekaan adalah amanat yang harus terus dijaga oleh setiap generasi.

Karena itu, setiap kali Proklamasi dibacakan, sesungguhnya kita tidak hanya sedang mengulang sejarah.

Kita sedang bertanya kepada diri sendiri: apa arti kemerdekaan bagi kita hari ini?

Bagi mereka yang bekerja di lembaga pengawas pemilu, pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam bentuk yang mungkin tidak selalu terlihat.

Kemerdekaan dapat hadir melalui integritas ketika menjalankan tugas. Ia dapat hadir melalui keberanian menjaga aturan. Ia dapat tumbuh melalui kerja yang dilakukan dengan jujur, profesional, dan bertanggung jawab.

Sebab demokrasi yang sehat tidak lahir dengan sendirinya.

Ada orang-orang yang harus menjaganya.

Ada institusi yang harus memastikan aturan tidak hanya tertulis di atas kertas.

Dan ada aparatur yang setiap hari dituntut untuk memahami bahwa pekerjaan mereka, sekecil apa pun, pada akhirnya bersentuhan dengan kepentingan yang lebih besar: kepentingan masyarakat dan masa depan demokrasi.

Karena itu, peringatan kemerdekaan di lingkungan Bawaslu tidak semestinya berhenti pada upacara, penghormatan kepada bendera, atau pengulangan kata-kata tentang nasionalisme. Kemerdekaan perlu diterjemahkan menjadi kerja.

Menjadi integritas. Menjadi keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar ketika jalan itu tidak selalu mudah.

Menjadi kesediaan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dan menjadi komitmen untuk menjaga pemilu agar tetap berlangsung dalam ruang demokrasi yang jujur, berintegritas, dan berkeadilan.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, mungkin kita tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang dahulu dikenal para pejuang.

Tetapi setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.

Hari ini, perjuangan itu dapat berupa melawan ketidakjujuran, apatisme, penyalahgunaan kewenangan, disinformasi, politik uang, dan berbagai bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi. Di situlah pengabdian menemukan maknanya.

Bukan pada seberapa besar seseorang berbicara tentang cinta kepada tanah air, melainkan pada seberapa sungguh ia menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Pagi itu, setelah upacara selesai, barisan akan kembali bubar. Bendera akan tetap berkibar. Aktivitas kantor akan kembali berjalan seperti biasa.

Tetapi semoga ada sesuatu yang tidak ikut bubar bersama barisan itu: semangat untuk mengabdi.Sebab merah putih bukan hanya warna yang kita hormati setiap 17 Agustus. Ia adalah janji.

Janji bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu tidak akan kita biarkan kehilangan maknanya.

Dan bagi Bawaslu, salah satu cara menunaikan janji itu adalah dengan terus menjaga demokrasi, setiap hari, melalui pekerjaan yang mungkin sederhana, tetapi dilakukan dengan hati yang tidak sederhana.

Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa ini berhasil merdeka.

Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita, generasi yang menerima warisannya, mampu menjaga apa yang telah diperjuangkan.

(Rendai Ruauw)

.

Loading

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *